Super Hero
Sejak kelas 4 SD gue suka banget nonton film
kartun, terutama film kartun Spiderman.
Semenjak gue nonton film itu gue jadi kagum dan sebagaimana pola pikir anak
kecil yang polos gue mulai meniru apa saja adegan yang dilakukan oleh si Peter
Parker sebelum jadi Spiderman, yaitu
memanjat-manjat pohon make jaring laba-laba, khayalan gue yang sebenarnya itu
adalah tali air yang digunakan pas gue latihan pramuka di sekolah setiap hari
jumat.
Dengan
gaya tangan seperti anak Metal yang di arahkan ke dahan-dahan pohon dengan
bunyi.
“dshyuuuuuuuu…
dshyuuuuuuuu… dshyuuuuuuuu”
Pertanda bahwa jaring sudah terlempar ke arah
dahan pohon dan gue mulai bergelayutan udah mirip primata langka yang lagi
ikutan kontes topeng monyet internasional.
Gue teringat Peter Parker saat pertama
kali menjadi Spiderman, ia digigit
Laba-Laba sehingga DNA-nya bermutasi dan menjadikan dia manusia laba-laba super
dengan kostum berwarna merah dan biru disertai topeng yang menurut gue itu aneh
tapi keren untuk di tiru.
Saat itu gue berinisiatif buat nyari
laba-laba nganggur dan mencoba untuk menggigitkannya ke diri gue sendiri berharap gue bisa jadi manusia super seperti
Film Spiderman yang gue tonton.
Ketika gue menyusuri semak belukar yang ada di
kebun yang jaraknya hampir 2 km dari rumah gue, saat itu gue mencari sambil
mengais-ngais jaring laba-laba make ranting kayu, soalnya jaring laba-labanya
itu tinggi banget kira-kira setinggi 2 meteran gitu.
Waktu
itu tinggi gue masih bantet banget, sekitar 1 meter kurang 5cm, jadi gak nyampek
buat gapai jaringnya make tangan, terpaksa gue make ranting untuk menggapainya.
Sarang
laba-laba itu penuh sisa-sisa pembuangan sampah berupa pempers bayi dan
pembalut wanita yang tentunya bukan milik para kaum adam yang make.
Gue
gak tau entah bagaimana cara mereka nyangkut, yang jelas mereka gak bisa
nyangkut dengan sendirinya.
Tapi
karena pada waktu itu gue masih polos, jadi gue mikir kalau sampah-sampah itu
naik sendiri pengen gelayutan dan
menikmati pemandangan kebun dengan santai dari atas jaring laba-laba
itu, kaya cerita film Toys Story, di mana
mainan hidup dan bergerak ketika gak ada manusia dan mematung saat ada manusia.
Alhasil
gue gak dapetin laba-laba satupun, yang ada cuma sisa jaring laba-laba yang
sudah tak simetris dan dedaunan di sertai sampah-sampah jorok yang
bergelantungan gak jelas.
Susahnya
mencari laba-laba sendirian membuat gue pergi kerumah Anis buat ngajakin dia
nyari laba-laba bareng gue.
Anis
adalah salah satu teman gue yang paling dekat, karena kalau kemana-mana gue
selalu bareng dia, ciri khas rambutnya adalah cukur cepak ala tentara keracunan
minyak goreng.
Jidatnya
yang agak melebihi kapasitas persis kaya manusia super hidrosefalus yang patut
di kasihani.
Kesimpulannya
adalah Anis merupakan anak laki-laki berumur 8 tahun berbadan kerdil, berambut
cepak ala tentara, berwajah manusia setengah Lohan.
Gue
gak tau kenapa dia lahir dengan bentuk seperti itu, mungkin nyokapnya dulu pas
lagi bunting ngidam makan ikan lohan tapi gak kesampaian atau malah dia anak
hasil rekayasa genetik dimana memadukan dua spesies yang berbeda antara DNA
manusia dengan DNA ikan Lohan sehingga terciptalah Anis si manusia setengah
Lohan. Sebenarnya dia ganteng tapi bentuk jidatnya aja yang absurd.
Dia
memiliki bakat di bidang tarik suara (suka teriak-teriak gak jelas), main
jambak-jambakan, dia jago banget kalau masalah main ginian dan gue selalu kalah
kalau ngelawan dia (yah jelaslah gue selalu kalah dan dia selalu menang. Dia
gak punya rambut apanya yang mau di jambak coba) dan yang terakhir adalah, dia
berbakat untuk bikin orang naik darah gara-gara keusilannya.
Aktifitas-aktifitas
yang pernah kita lakukan bersama adalah mancing ikan di kolam orang, berburu
layangan putus hingga nginjek-nginjek taneman orang, dan yang terakhir
aktifitas kita yang paling extrime
adalah main ketapel bersama yang jadi sasaran adalah sarang tawon yang
tidak bersalah.
Alhasil
kita berdua dikejar-kejar tawon. Udah persis kaya gerombolan anak STM labil vs
2 anak SD nekat, seolah-olah itu tawon ngajakin tawuran dan berkata.
“Woi…
anak sekolah mana luh, brani-braninya lu nantangin kita, sini lu kalo berani!!!
Punya nyawa berapa luh!!!!.”
Dan
akhirnya kita berduapun sama-sama nangis dengan lebam-lebam oleh sengatan
tawon, dan jidat Anis pun makin gede persis Alien kena HIV.
Sampailah
gue kerumah dan ngajakin dia main.
Gue : Nis, ikut gue yuk?
Anis : Kemana Chen?
Gue : Nyari laba-laba nih….!
Anis : Emank Buat apaan?
Gue : Kemaren gue kan nonton Spiderman, nah, si Peter itu jadi Spiderman gara-gara digigit laba-laba. Gue pengen juga tu jadi
manusia laba-laba yang bisa manjat dinding dan ngeluarin jaring dari tangan.
Pasti keren kalo jadi Spiderman!!!
Anis : Waaaahhhh… boleh tu di coba… lumayan kan gak
usah beli benang lagi kalo maen layang-layang…! Sekarang kita mau cari dimana… ???
Gue : Nah itu dia masalahnya, gue kesini mau tanya
sama lu, eh lu malah nanya balik ke gue…!
Anis : Oke deh kalo gitu, kita nyari di kebunnya Pak
Parman aja gimana barang kali disana ada??
Gue : Oke Ayo jalan…..
Kita
berdua pun berangkat menuju kebun pak Parman yang lokasinya gak jauh dari rumah
Anis sambil membawa cemilan berupa krupuk 1 lusin yang dibeli di warung pinggir
jalan dengan cara patungan fifti-fifti, gue Rp.600 dan Anis Rp.600. Yah waktu
itu harganya lumayam murah Rp.100/ biji.
Anis : Mmmmmm…Chen, krupuknya enak ya warna-warni
banyak bumbunya lagi… ne krupuk kaya rasa apa
ya… mmmmmm… oh iya rasa Pizza…!
Gua : Iya bener Nis, ini kaya rasa Pizza yang ada di
tifi-tifi itukan….
Anis : Yoi, enak banget nih…gak percuma kita patungan
beli tadi di warung….
Gue : he’emmmm……
Padahal
kita gak berdua pernah makan Pizza dan gak pernah tahu rasa Pizza itu seperti
apa, nyium baunya aja gak pernah, yang jelas si Anis mulai ngarang soal
rasanya, dan begoknya gue, gue juga nge-iya in
apa yang Anis katakan.
Sambil
makan kerupuk di jalan kita berbincang-bincang sambil berhayal tentang Visi
Misi kita saat jadi Spidermen. Betapa kerennya menjadi Spiderman yang berayun-ayun di dahan pohon kelapa.
Karena
mustahil di kampung gue berayun-ayun di gedung tinggi pencakar langit kaya di
Hollywood, karena mentok-mentok paling tinggi di kampung gue adalah pohon
kelapa doang dan dengan kekuatan super kita bisa mengalahkan monster kampong,
kita berdua menjadi pahlawan super kampungan.
___________(20 Menit
Kemudian)___________
Akhirnya
kita berdua sampai di kebun Pak Parman, dan kita berdua mulai berpencar mencari
jaring yang paling mencurigakan, gue nyari di sebelah timur dan Anis nyari di
sebelah barat.
Karena
jaring laba-laba yang abstrak bentuknya itu diidentifikasi sebagai tempat
bersarangnya laba-laba yang mengakibatkan Peter Parker menjadi menjadi Spiderman, itu yang gue ketahui dari
hasil pengamatan pas nonton film Spiderman.
Beberapa menit kemudian terdengar
teriakan Anis dari arah barat yang sepetinyasudah menemukan apa yang selama ini
kita cari.
Anis : Chen, gue nemu ne 2 ekor… ayo kesini buruan…!
Gue : Iya bentar, gue kesana (guepun bergegas menuju
ke tempat Anis)
Anis : Ayo bantuin tangkep!!!!
Gue : Gila… tu laba-laba gede banget kaya kepiting
sawah, kayaknya yang di Film bentuknya kecil deh gak kaya gini deh…
Anis : Semakin besar bentuknya mungkin kekuatan yang
akan kita dapet tu mungkin akan semakin hebat, Chen...
Gue : Gak ah…gue gak mau di gigit sama laba-laba
segede itu….
Anis : Masak kalah sama gue, gue aja berani tangan gue
digigitin ke laba-labanya…masa lu kala sama gue sih…. Cemen lu….
Gue : Mmmmm…..gimana ya….mmmm….ya udah deh gue
berani juga….tapi kita barengan ya tangan kita buat digigitin tu ke laba-laba….
Anis : Iya deh…..
Gue : Ok, kita hitung sama-sama (Tangan Gue dan
tangan Anis mulai siap-siap buat diuluri kearah laba laba itu)
Gue dan Anis
: satu… dua… tiga… (Tangan Kita berdua mulai digigit laba-laba)
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh”
Kita
berdua teriak kaya bencong kecopetan. Sumpah sakit banget tu laba-laba
gigitnya, rasanya nyeri banget.
Abis
itu kita berdua pulang kerumah masing-masing dengan ekpresi menangis kesakitan
layaknya balita autis yang lagi merengek abis kejatohan duren dari luar
angkasa.
Bahkan gak akan pernah terbayangkan oleh anak
seusia kita buat niru adegan di TV yang tentunya fiktif banget dan gak patutuntuk ditiru. Sekaliannya ditiru
malah jadi musibah buat gue.
Mungkin
imajinasi gue waktu itu sedang labil-labilnya atau bahkan berlebihan banget
sehingga nalar akal sehat kemanusiaan gw berubah menjadi insting abnormal yang
menjerumuskan gue dan Anis dunia khayal.
Untung
pada saat itu tayangan di TV hanya menayangkan film Spiderman yang menjadi super
hero akibat tidak sengaja digigit oleh laba-laba, coba aja kalo ada film super hero
Plantman[1].
Mungkin
gue udah terobsesi buat makan kangkung supaya gue menjadi super hero secara
ajaib dan mungkin gue akan berfotosintesis setiap pagi untuk memulihkan
kekuatan super gue.
Atau
gue malah akan suka berendem seharian di bak berisi air kaya kuda nil lagi
buang hajat, serta menghirup karbon dioksida dan mengeluarkan oksigen di pagi
hari setra menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida pada malam
hari!!!!!. Apaan coba, ada juga tambah gak jelas gitu.
Keesokan
harinya, kita berdua gak masuk sekolah gara-gara bengkak digigit tu laba-laba,
dah hebatnya adalah kita berdua pada hari dan jam yang sama, kita sama-sama
masuk rumah sakit serta berada di kamar yang sama. Bukannya jadi Spiderman, ini
bengkak malah jadi kaya zombie kena cacar air gini ini tangan.
Hari itu gue sadar bahwa kalo gak semua film
yang ada di TV itu bisa ditiru dan dipraktekkan karena terkadang tayangan yang
ada di TV dapat menjadi acuan pola pikir anak kecil menjadi penghayal tingkat
tinggi dan tidak logis dalam berpikir.
Udah Gitu Aja...
[1]
Sejenis
Pahlawan Super yang kekuatannya dari akar pohon. Kaya Groot (si Manusia Pohon karakter dalam komik Marvel di Guardian Of The Galaxy) tapi dalam
bentuk Manusia tanaman Hias.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar