Minggu, 06 Desember 2015

Super Hero

Super Hero


Sejak  kelas 4 SD gue suka banget nonton film kartun, terutama film kartun Spiderman. Semenjak gue nonton film itu gue jadi kagum dan sebagaimana pola pikir anak kecil yang polos gue mulai meniru apa saja adegan yang dilakukan oleh si Peter Parker sebelum jadi Spiderman, yaitu memanjat-manjat pohon make jaring laba-laba, khayalan gue yang sebenarnya itu adalah tali air yang digunakan pas gue latihan pramuka di sekolah setiap hari jumat.
Dengan gaya tangan seperti anak Metal yang di arahkan ke dahan-dahan pohon dengan bunyi.
“dshyuuuuuuuu… dshyuuuuuuuu… dshyuuuuuuuu”
 Pertanda bahwa jaring sudah terlempar ke arah dahan pohon dan gue mulai bergelayutan udah mirip primata langka yang lagi ikutan kontes topeng monyet internasional.
          Gue teringat Peter Parker saat pertama kali menjadi Spiderman, ia digigit Laba-Laba sehingga DNA-nya bermutasi dan menjadikan dia manusia laba-laba super dengan kostum berwarna merah dan biru disertai topeng yang menurut gue itu aneh tapi keren untuk di tiru.
          Saat itu gue berinisiatif buat nyari laba-laba nganggur dan mencoba untuk menggigitkannya ke diri gue sendiri berharap gue bisa jadi manusia super seperti Film Spiderman yang gue tonton.
  Ketika gue menyusuri semak belukar yang ada di kebun yang jaraknya hampir 2 km dari rumah gue, saat itu gue mencari sambil mengais-ngais jaring laba-laba make ranting kayu, soalnya jaring laba-labanya itu tinggi banget kira-kira setinggi 2 meteran gitu.
Waktu itu tinggi gue masih bantet banget, sekitar 1 meter kurang 5cm, jadi gak nyampek buat gapai jaringnya make tangan, terpaksa gue make ranting untuk menggapainya.
Sarang laba-laba itu penuh sisa-sisa pembuangan sampah berupa pempers bayi dan pembalut wanita yang tentunya bukan milik para kaum adam yang make.
Gue gak tau entah bagaimana cara mereka nyangkut, yang jelas mereka gak bisa nyangkut dengan sendirinya.
Tapi karena pada waktu itu gue masih polos, jadi gue mikir kalau sampah-sampah itu naik sendiri pengen gelayutan dan  menikmati pemandangan kebun dengan santai dari atas jaring laba-laba itu, kaya cerita film Toys Story, di mana mainan hidup dan bergerak ketika gak ada manusia dan mematung saat ada manusia.
Alhasil gue gak dapetin laba-laba satupun, yang ada cuma sisa jaring laba-laba yang sudah tak simetris dan dedaunan di sertai sampah-sampah jorok yang bergelantungan gak jelas.
Susahnya mencari laba-laba sendirian membuat gue pergi kerumah Anis buat ngajakin dia nyari laba-laba bareng gue.
Anis adalah salah satu teman gue yang paling dekat, karena kalau kemana-mana gue selalu bareng dia, ciri khas rambutnya adalah cukur cepak ala tentara keracunan minyak goreng.
Jidatnya yang agak melebihi kapasitas persis kaya manusia super hidrosefalus yang patut di kasihani.
Kesimpulannya adalah Anis merupakan anak laki-laki berumur 8 tahun berbadan kerdil, berambut cepak ala tentara, berwajah manusia setengah Lohan.
Gue gak tau kenapa dia lahir dengan bentuk seperti itu, mungkin nyokapnya dulu pas lagi bunting ngidam makan ikan lohan tapi gak kesampaian atau malah dia anak hasil rekayasa genetik dimana memadukan dua spesies yang berbeda antara DNA manusia dengan DNA ikan Lohan sehingga terciptalah Anis si manusia setengah Lohan. Sebenarnya dia ganteng tapi bentuk jidatnya aja yang absurd.
Dia memiliki bakat di bidang tarik suara (suka teriak-teriak gak jelas), main jambak-jambakan, dia jago banget kalau masalah main ginian dan gue selalu kalah kalau ngelawan dia (yah jelaslah gue selalu kalah dan dia selalu menang. Dia gak punya rambut apanya yang mau di jambak coba) dan yang terakhir adalah, dia berbakat untuk bikin orang naik darah gara-gara keusilannya.
Aktifitas-aktifitas yang pernah kita lakukan bersama adalah mancing ikan di kolam orang, berburu layangan putus hingga nginjek-nginjek taneman orang, dan yang terakhir aktifitas kita yang paling extrime  adalah main ketapel bersama yang jadi sasaran adalah sarang tawon yang tidak bersalah.
Alhasil kita berdua dikejar-kejar tawon. Udah persis kaya gerombolan anak STM labil vs 2 anak SD nekat, seolah-olah itu tawon ngajakin tawuran dan berkata.
“Woi… anak sekolah mana luh, brani-braninya lu nantangin kita, sini lu kalo berani!!! Punya nyawa berapa luh!!!!.”
Dan akhirnya kita berduapun sama-sama nangis dengan lebam-lebam oleh sengatan tawon, dan jidat Anis pun makin gede persis Alien kena HIV.
Sampailah gue kerumah dan ngajakin dia main.
Gue :  Nis, ikut gue yuk?
Anis : Kemana Chen?
Gue :  Nyari laba-laba nih….!
Anis : Emank Buat apaan?
Gue :  Kemaren gue kan nonton Spiderman, nah, si Peter itu jadi Spiderman gara-gara digigit laba-laba. Gue pengen juga tu jadi manusia laba-laba yang bisa manjat dinding dan ngeluarin jaring dari tangan. Pasti keren kalo jadi Spiderman!!!
Anis : Waaaahhhh… boleh tu di coba… lumayan kan gak usah beli benang lagi kalo maen layang-layang…! Sekarang kita mau cari dimana… ???
Gue :  Nah itu dia masalahnya, gue kesini mau tanya sama lu, eh lu malah nanya balik ke gue…!
Anis : Oke deh kalo gitu, kita nyari di kebunnya Pak Parman aja gimana barang kali disana ada??
Gue :  Oke Ayo jalan…..
Kita berdua pun berangkat menuju kebun pak Parman yang lokasinya gak jauh dari rumah Anis sambil membawa cemilan berupa krupuk 1 lusin yang dibeli di warung pinggir jalan dengan cara patungan fifti-fifti, gue Rp.600 dan Anis Rp.600. Yah waktu itu harganya lumayam murah Rp.100/ biji.
Anis : Mmmmmm…Chen, krupuknya enak ya warna-warni banyak bumbunya lagi… ne krupuk kaya rasa apa  ya… mmmmmm… oh iya rasa Pizza…!
Gua :  Iya bener Nis, ini kaya rasa Pizza yang ada di tifi-tifi itukan….
Anis : Yoi, enak banget nih…gak percuma kita patungan beli tadi di warung….
Gue :  he’emmmm……
Padahal kita gak berdua pernah makan Pizza dan gak pernah tahu rasa Pizza itu seperti apa, nyium baunya aja gak pernah, yang jelas si Anis mulai ngarang soal rasanya, dan begoknya gue, gue juga nge-iya in  apa yang Anis katakan.
Sambil makan kerupuk di jalan kita berbincang-bincang sambil berhayal tentang Visi Misi kita saat jadi Spidermen. Betapa kerennya menjadi Spiderman yang berayun-ayun di dahan pohon kelapa.
Karena mustahil di kampung gue berayun-ayun di gedung tinggi pencakar langit kaya di Hollywood, karena mentok-mentok paling tinggi di kampung gue adalah pohon kelapa doang dan dengan kekuatan super kita bisa mengalahkan monster kampong, kita berdua menjadi pahlawan super kampungan.
___________(20 Menit Kemudian)___________
Akhirnya kita berdua sampai di kebun Pak Parman, dan kita berdua mulai berpencar mencari jaring yang paling mencurigakan, gue nyari di sebelah timur dan Anis nyari di sebelah barat.
Karena jaring laba-laba yang abstrak bentuknya itu diidentifikasi sebagai tempat bersarangnya laba-laba yang mengakibatkan Peter Parker menjadi menjadi Spiderman, itu yang gue ketahui dari hasil pengamatan pas nonton film Spiderman.
          Beberapa menit kemudian terdengar teriakan Anis dari arah barat yang sepetinyasudah menemukan apa yang selama ini kita cari.
Anis : Chen, gue nemu ne 2 ekor… ayo kesini buruan…!
Gue :  Iya bentar, gue kesana (guepun bergegas menuju ke tempat Anis)
Anis : Ayo bantuin tangkep!!!!
Gue :  Gila… tu laba-laba gede banget kaya kepiting sawah, kayaknya yang di Film bentuknya kecil deh gak kaya gini deh…
Anis : Semakin besar bentuknya mungkin kekuatan yang akan kita dapet tu mungkin akan semakin hebat, Chen...
Gue :  Gak ah…gue gak mau di gigit sama laba-laba segede itu….
Anis : Masak kalah sama gue, gue aja berani tangan gue digigitin ke laba-labanya…masa lu kala sama gue sih…. Cemen lu….
Gue :  Mmmmm…..gimana ya….mmmm….ya udah deh gue berani juga….tapi kita barengan ya tangan kita buat digigitin tu ke laba-laba….
Anis : Iya deh…..
Gue :  Ok, kita hitung sama-sama (Tangan Gue dan tangan Anis mulai siap-siap buat diuluri kearah laba laba itu)
Gue dan Anis : satu… dua… tiga… (Tangan Kita         berdua         mulai digigit laba-laba)
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh”
Kita berdua teriak kaya bencong kecopetan. Sumpah sakit banget tu laba-laba gigitnya, rasanya nyeri banget.
Abis itu kita berdua pulang kerumah masing-masing dengan ekpresi menangis kesakitan layaknya balita autis yang lagi merengek abis kejatohan duren dari luar angkasa.
 Bahkan gak akan pernah terbayangkan oleh anak seusia kita buat niru adegan di TV yang tentunya fiktif banget  dan gak patutuntuk ditiru. Sekaliannya ditiru malah jadi musibah buat gue.
Mungkin imajinasi gue waktu itu sedang labil-labilnya atau bahkan berlebihan banget sehingga nalar akal sehat kemanusiaan gw berubah menjadi insting abnormal yang menjerumuskan gue dan Anis dunia khayal.
Untung pada saat itu tayangan di TV hanya menayangkan film Spiderman yang menjadi super hero akibat tidak sengaja digigit oleh laba-laba, coba aja kalo ada film super hero Plantman[1].
Mungkin gue udah terobsesi buat makan kangkung supaya gue menjadi super hero secara ajaib dan mungkin gue akan berfotosintesis setiap pagi untuk memulihkan kekuatan super gue.
Atau gue malah akan suka berendem seharian di bak berisi air kaya kuda nil lagi buang hajat, serta menghirup karbon dioksida dan mengeluarkan oksigen di pagi hari setra menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida pada malam hari!!!!!. Apaan coba, ada juga tambah gak jelas gitu.
Keesokan harinya, kita berdua gak masuk sekolah gara-gara bengkak digigit tu laba-laba, dah hebatnya adalah kita berdua pada hari dan jam yang sama, kita sama-sama masuk rumah sakit serta berada di kamar yang sama. Bukannya jadi Spiderman, ini bengkak malah jadi kaya zombie kena cacar air gini ini tangan.
Hari itu gue sadar bahwa kalo gak semua film yang ada di TV itu bisa ditiru dan dipraktekkan karena terkadang tayangan yang ada di TV dapat menjadi acuan pola pikir anak kecil menjadi penghayal tingkat tinggi dan tidak logis dalam berpikir.


Udah Gitu Aja...



[1] Sejenis Pahlawan Super yang kekuatannya dari akar pohon. Kaya Groot (si Manusia Pohon karakter dalam komik Marvel di Guardian Of The Galaxy) tapi dalam bentuk Manusia tanaman Hias.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar